Kamis, 02 Februari 2012

KIMIA PERCOBAAN V


PERCOBAAN V
STANDARISASI NATRIUM HIDROKSIDA DAN PENGGUNAANNYA UNTUK PENENTUAN KONSENTRASI ASAM ASETAT
I.              TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini adalah praktikan diharapkan dapat memahami dan melakukan standarisasi larutan serta menggunakannya untuk analisis kuantitatif sampel.
II.           TINJAUAN PUSTAKA
Standarisasi dapat dilakukan dengan titrasi. Titrasi merupakan proses penentuan konsentrasi suatu larutan dengan mereaksikan larutan yang sudah ditentukan konsentrasinya (larutan standar). Titrasi asam basa adalah suatu titrasi dengan menggunakan reaksi asam basa (reaksi penetralan). Prosedur analisis pada titrasi asam basa ini adalah dengan titrasi volumemetri, yaitu mengukur volume dari suatu asam atau basa yang bereaksi (Syukri, 1999).
Pada saat terjadi perubahan warna indikator, titrasi dihentikan. Indikator berubah warna pada saat titik ekuivalen. Pasda titrasi asam basa, dikenal istilah titik ekuivalen dan titik akhir titrasi. Titik ekuivalen adalah titik pada proses titrasi ketika asam dan basa tepat habis bereaksi. Untuk mengetahui titik ekuivalen digunakan digunakan indikator. Saat perubahan warna terjadi, saat itu disebut titik akhir titrasi (Sukmariah, 1990).
Proses penentuan konsentrasi suatu larutan dipastikan dengan tepat dikenal sebagai standarisasi. Suatu larutan standar kadang-kadang dapat disiapkan dengan menggunakan suatu sampel zat terlarut yang diinginkan, yang ditimbang dengan tepat, dalam volume larutan yang diukur dengan tepat. Zat yang memadai dalam hal ini hanya sedikit, disebut standar primer (Day, 1998).
Zat yang digunakan untuk larutan standar primer, harus memenuhi persyaratan berikut:
1.        Mudah diperoleh dalam bentuk murni maupun dalam keadaan yang diketahui kemurniannya.
2.        Harus stabil.
3.        Zat ini mudah dikeringkan, tidak higroskopis , sehingga tidak menyerap uap air, tidak menyerap CO2 pada waktu penimbangan (Sukmariah, 1990).
Larutan yang mempunyai konsentrasi molar yang diketahui, dapat dengan mudah digunakan untuk reaksi-reaksi yang melibatkan prosedur kuantitatif. Kuantitas zat terlarut dalam suatu volume larutan itu, dimana volume itu diukur dengan teliti, dapat diketahui dengan tepat dari hubungan dasar berikut ini:
Mol = liter x konsentrasi molar
                   atau:
Mmol = ml x konsentrasi molar
Perhitungan-perhitungan stokiometri yang melibatkan larutaan yang diketahui molaritasnya bahkan lebih sederhana lagi. Dengan devinisi bobot ekuivalen, dua larutan akan bereaksi dengan tepat satu sama lain bila keduanya mengandung gram ekuivalen yang sama. Dalam hubungan ini, kedua normalitas harus dinyatakan dengan satuan yang sama, demikian juga kedua volume (Brady, 1990).
Analisis kimia yang diketahui terhadap sampel yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif memberikan informasi mengenai apa saja yang menjadi komponen penyusun dalam suatu sampel, sedangkan analisis kuantitatif memberikan informasi mengenai beberapa banyak komposisi suatu komponen dalam sampel. Dengan kata lain, analisis kualitatif berkaitan dengan jumlah atau banyaknya senyawa dalam sampel. Analisis kuantitatif konvensional yang paling sering diterapkan yaitu analisis titrimetri. Analisis titrimetri dilakukan dengan menitrasi suatu sampel tertentu dengan larutan standar, yaitu larutan yang sudah diketahui konsentrasinya. Perhitungan didasarkan pada volume titran yang diperlukan hingga tercapai titik ekuivalen titrasi. Analisis titrimetri yang didasarkan pada terjadinya reaksi asam basa antara sampel dengan larutan standar disebut analisis asidi alkalimetri. Apabila larutan standar yang digunakan adalah suatu larutan yang bersifat asam maka analisis yang dilakukan adalahh analisis asidimetri. Sebaliknya jika digunakan suatu basa sebagai larutan standar, analisis tersebut disebut sebagai analisis alkalimetri. Konsentrasi larutan asam basa sering menggunakan satuan kemolaran (M), maka rumusan itu dapat diubah. Konversi dari suatu kemolaran ke normalitasan adalah mengalikan valensi (n) asam atau basa dengan kemolaran. Sebaliknya dari suatu kenormalan ke satuan kemolaran adalah membagi kemolaran dengan valensi asam atau basa. Konversi ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
M               N


Dengan rumus :
VA . MA . nA = VB . MB . nB
Keterangan :
VA  = Volume sebelum pengenceran
MA  = Molaritas sebelum pengenceran
VB  = Volume setelah pengenceran
MB = Molaritas setelah pengenceran
nA  = Valensi asam
nB  = Valensi basa (Keenan, 1991).
Analisis kimiawi menetapkan komposisi kuantitatif dan kualitatif suatu materi. Konstituen-konstituen yang akan didereksi ataupun ditentukan jumlahnya adalah unsur, rasikal, gugus fungsi, senyawaan atau fase. Analisis kimia menyangkut aspek analisis yang lebih sempit. Analisis pada umumnya terdiri atas analisis kualitatif dilakukan sebelum analisis kuantitatif.  Tahapan penentuan analisis kuantitatif adalah dengan usaha mendapatkan  sampel, mengubahnya menjadi keadaan yang dapat terukur, pengukuran konstituen yang dikehendaki, dan yang terakhir perhitungan dan interprestasi data numerik (Khopkar, 1990).
Istilah analisis titrametri mengacu pada analisis kimia kuantitatif yang dilakukan dengan menetapkan volume suatu larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepat, yang diperlukan untuk bereaksi secara kuantitatif dengan larutan zat yang akan ditetapkan. Larutan dengan kekuatan (konsentrasi) yang diketahui tepat itu, disebut larutan standar. Bobot zat yang hendak ditetapkan, dihitung dari volume standar yang digunakan dan hukum-hukum stokiometri yang diketahui. Dahulu digunakan orang analisis volumetri, tetapi sekarang telah diganti dengan analisiss titrimetri, karena yang terakhir ini dianggap lebih baik menyatakan proses titrasi, sedangkan yang disebut terdahulu dapat dikacaukan dengan pengukuran-pengukuran volume, seperti yang melibatkan gas-gas. Reagensia dengan konsentrasi yang diketahui itu disebut titran, dan zat yang sedang dititrasi disebut titrat (Basset, 1994).
Suatu reaksi dapat digunakan sebagai dasar analisa titrimetri apabila memenuhi persyaratan berikut:
1.             Reaksi harus berlangsung cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama.
2.             Reaksi harus sederhana dan diketahui dengan pasti, sehingga didapat kesetaraan yang pasti dalam reaktan.
3.             Reaksi harus berlangsung secara sempurna.
4.             Mempunyai massa ekuivalen yang besar (Sukmariah, 1990).
Untuk analisis titrimetri lebih mudah jika kita memahami sistem ekuivalen (larutan normal) sebab pada titik akhir titrasi jumlah ekuivalen dari zat yang dititrasi = jumlah ekuivalen zat penitrasi. Berat ekuivalen suatu zat sangat sukar dibuat definisinya, tergantung dari macam reaksinya. Volumetri dapat dibagi menjadi:
1.             Asidi dan alkalimetri
2.             Oksidimetri
3.             Argentometri
Asidimetri adalah yang diketahui konsentrasi asamnya, sedangkan alkalimetri bila yang diketahui adalah konsentrasi basanya. Titrasi asam basa ada lima. Empat diantaranya adalah:
1.    Titrasi asam dengan basa kuat
Diakhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat.
Misal:
HCl  +  NaOH                   NaCl  +   H2O
2.    Titrasi asam lemah dan basa kuat
Pada akhir titrasi terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat. Misal : asam asetat dengan NaOH.
CH3COOH  +  NaOH                                CH3COONa  +  H2O
3.    Titrasi basa lemah dan asam kuat
Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari basa lemah dan asam kuat. Misal : NH4Cl dan HCl
NH4OH  +  HCl                   NH4Cl  +  H2O
4.    Titrasi asam lemah dan basa lemah
Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan basa lemah. Misal : asam asetat dan NH4OH
   CH3COOH  +  NH4OH                     CH3COONH4 + H2O (Sukmariah, 1990).
Peningkatan kadar logam berat dalam air laut akan diikuti peningkatan kadar logam berat dalam biota laut yang pada gilirannya melalui rantai makanan akan menimbulkan keracunan akut dan khronik, bahkan bersifat karsinogenik pada manusia konsumen hasil laut (Keman, 1998). Penelitian yang telah dilakukan oleh Pikir (1993) dengan metode Spektroskopi Serapan Atom (SSA) menyimpulkan bahwa kerang yang berasal dari Pantai Kenjeran Suraba ya, mengandung logam berat Cadmium (Cd) sebesar 1,22 ppm dan kerang dari Pantai Keputih Surabaya, mengandung 1,09 ppm logam berat Cadmium. Penelitian lain yang dilakukan dengan metode yang sama oleh Moesriati (1995) terhadap beberapa jenis ikan dan kerang di Pantai Kenjeran Surabaya menyatakan bahwa kadar logam berat Cadmium dalam daging kerang adalah 1,21 ppm (Sari, 2005).
III.        ALAT DAN BAHAN
A.       Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini meliputi gelas arloji, gelas beker  100 mL, pengaduk kaca, pipet tetes, pipet ukur, erlenmeyer 100 mL, labu takar 100 mL, dan buret 50 mL.
B.       Bahan
Bahan-bahan yang diperlukan pada percobaan ini meliputi asam oksalat dihidrat (H2C2O4.2H2O), larutan standart NaOH 0,1 N, akuades, cuka makan komersial jeruk nipis,  dan indikator fenophtalein.
IV.        PROSEDUR PERCOBAAN
A.       Pembuatan Larutan Standar Asam Oksalat dan Penggunaannya untuk Standarisasi  Larutan NaOH
1.        Sebanyak 1,26 gram asam oksalat dihidrat (H2C2O42H2O) ditimbang dengan menggunakan gelas arolji dan neraca analitik.
2.        Asam Oksalat dipindahkan dari gelas arloji ke dalam gelas beker 100 mL, tambahkan 25-30 mL akuades, kemuadian diaduk hingga larut. Setelah itu gelas arloji dibilas dengan sedikit akuades, dan masukkan air bilasan ke dalam gelas beker yang berisi larutan asam oksalat tersebut.
3.        Larutan asam oksalat dipindahkan ke dalam labu takar 100 mL, kemudian gelas beker dibilas dengan sedikit akuades, air bilasan tersebut dimasukkan ke dalam labu takar.
4.        Akuades ditambahkan ke dalam labu takar  hingga tepat tanda batas dan dikocok hingga homogen.
5.        Buret yang akan digunakan dicuci dengan menggunakan akuades  kemudian dikeringkan.
6.        Larutan asam oksalat yang telah dibuat dimasukkan ke dalam buret 50 mL.
7.        10 mL larutan NaOH yang akan distandarisasi dimasukkan kedalam erlenmeyer  kemudian ditambahkan 2-3 tetes indikator fenophtalein.
8.        Larutan NaOH dititrasi dengan larutan asam oksalat dari buret.
9.        Jika terjadi perubahan warna yang konstan titrasi dihentikan kemudian dicatat volume asam oksalat yang digunakan untuk titrasi.
10.     Dilakukan titrasi kembali sebanyak 3 kali dan dihitung rata-rata volume yang digunakan dari tiga kali titrasi yang telah dilakukan.
B.       Penentuan Konsentrasi Asam Asetat dalam Asam Cuka Komersial
1.    10 mL asam cuka komersial dituangkan kedalam labu takar 250 mL dengan menggunakan pipet ukur.
2.    Akuades ditambahkan ke dalam labu takar hingga tanda batas kemudian labu takar tersebut ditutup dan dikocok hingga larutan homogen.
3.    15 mL asam cuka yang telah diencerkan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100 mL.
4.    Ditambahkan 2-3 tetes indikator fenophtalein ditambahkan kedalam larutan.
5.    Buret yang akan digunakan dicuci dengan akuades kemudian dikeringkan.
6.    Larutan standart NaOH 0,1 M yang telah distandarisasi di masukkan ke dalam buret.
7.    Larutan asam cuka encer dititrasi dengan menggunakan larutan NaOH 0,1 M dalam buret.
8.    Jika terjadi perubahan warna yang konstan titrasi dihentikan dan dicatat volume NaOH yang digunakan.
9.    Dilakukan kembali titrasi sebanyak tiga kali dan dihitung volume rata-rata yang digunakan saat titrasi.
V.           HASIL DAN PEMBAHASAN
A.       Hasil dan Pembahasan
1.    Hasil
a.         Pembuatan Larutan Standar Asam Asetat
NO
Percobaan
Pengamatan
1.
o  Dihitung Massa atom oksalat
o  Dihitung Mr asam oksalat
o  Dihitung Volume asam oksalat
m = 1,26 gram
Mr = 126 gram/mol
V = 50 mL
2.
Standarisasi Larutan NaOH 0,1 N
a.    Titrasi 1
o  Warna larutan sebelum titrasi
o  Dihitung volume NaOH
o  Dihitung volume Asam Oksalat
o  Indikator yang digunakan
o  Perubahan warna larutan setelah dititrasi
o  Volume rata-rata
b.    Titrasi 2
o  Warna larutan sebelum titrasi
o  Dihitung volume NaOH
o  Dihitung volume Asam Oksalat
o  Indikator yang digunakan
o  Perubahan warna larutan setelah dititrasi
o  Volume rata-rata


Ungu
V1 =  10 mL
V2 = 8,1 mL
Fenofhtalein
Ungu    Bening
Vrata-rata  = 9,05 mL

Ungu
V1 =  10 mL
V2 = 5,5 mL
Fenofhtalein
Ungu    Bening
Vrata-rata  = 7,75 mL
c.         Penentuan Kadar Asam Asetat
NO
Percobaan
Pengamatan
1.
o  Volume asam cuka sebelum pengenceran
o  Volume asam cuka setelah pengenceran
V1 = 5 mL
V2 = 20 mL
2.
Titrasi asam cuka dengan larutan NaOH
d.   Titrasi 1
o  Warna larutan sebelum titrasi
o  Dihitung volume Asam cuka
o  Dihitung volume NaOH
o  Indikator yang digunakan
o  Perubahan warna larutan setelah dititrasi
e.    Titrasi 2
o  Warna larutan sebelum titrasi
o  Dihitung volume Asam cuka
o  Dihitung volume NaOH
o  Indikator yang digunakan
o  Perubahan warna larutan setelah dititrasi
o  Volume rata-rata


Bening
V1 = 15 mL
V2 = 21 mL
Fenofthalein
Bening Ungu

Bening
V1 = 15 mL
V2 = 21 mL
Fenofthalein
Bening Ungu
Vrata-rata  = 18  mL

2.             Perhitungan
a.         Standarisasi Larutan NaOH
v Konsentrasi Larutan Asam Oksalat
Massa asam oksalat = 1,26 gram
Mr asam oksalat = 126 gram/mol
Volume larutan asam oksalat = 50 mL = 0,05 L
Molaritas asam oksalat  = 
                                       =
= 0,2 mol/L
Normalitas asam oksalat = n . M
                                        = (2ek/mol) x (0,2 mol/L)
                                        = 0,4 ek/L
v Penentuan Konsentrasi NaOH
Volume NaOH saat titrasi = 10 mL
Volume rata-rata asam oksalat saat titrasi = 6,8 mL
Normalitas asam oksalat = 0,4 ek/L
Pada saat titik ekuivalen : (N . V) asam = (N . M)basa
                                                   (N . V)oksalat = (N . M)NaOH
                                   0,4 ek/L . 6,8 mL = NNaOH . 10 mL
  NNaOH  =
=  0, 272 ek/L
b.         Penentuan Konsentrasi Asam Asetat dalam Asam Cuka
Normalitas asam asetat yang dititrasi = Nasetat
Volume asam asetat yang dititrasi = 15 mL
Volume rata-rata NaOH yang digunakan untuk titrasi = 21 mL
Normalitas NaOH yang digunakan untuk titrasi = 0,272 ek/L
Pada saat titik ekuivalen titrasi :
Jumlah ekuivalen asam = jumlah ekuivalen basa, sehingga:
(N . V)asam          = (N . V)basa
Nasetat . V asetat    = NNaOH . VNaOH
Nasetat . 15 mL     = 0,272 ek/L . 21 mL
Nasetat                        =
= 0,3808 ek/L
Karena asam asetat adalah asam monopotrik, maka n asam asetat = 1 ek/mol, sehingga:
M asetat    = N asetat /n 
               = 
= 0,3808 ek/L
Sebelum dititrasi, asam asetat telah diencerkan terlebih dahulu. Sehingga data yang telah diperoleh dari perhitungan di atas adalah konsentrasi asam asetat setelah diencerkan. Konsentrasi asam asetat sebelum diencerkan dapat dihitung sebagai berikut:
(M .V)sebelum pengenceran = (M . V)setelah pengenceran
Msebelum pengenceran = Masetat . (250 mL/10 mL)
     = 0,3808 ml/L (250 mL/10 mL)
     = 9,52 mol/L
Konsentrasi asam asetat dinyatakan dalam persentase (b/v) adalah:
% CH3COOH (b/v) = Masetat x Mrasam asetat x (1 L/1000 mL) x 100
                                 = 9,52 (mol/L) x 60 (gram/mol) x (1 L/1000 mL) x 100
                               = 57, 12 % (b/v)
3.             Pembahasan   
Kita tahu bahwa standarisasi adalah suatu proses yang digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan secara teliti atau bisa juga diartikan sebagai penentuan konsentrasi eksak dari suatu larutan standar. Larutan standar sendiri merupakan larutan yang telah diketahui konsentrasinya. Ada dua cara untuk menstandarkan larutan, yaitu :                                                                                          
a.              Pembuatan langsung larutan dengan melarutkan suatu zat murni dengan berat  tertentu, kemudian diencerkan sampai memperoleh volume tertentu secara tepat. Larutan ini disebut larutan standar primer, dan zat yang kita gunakan disebut standar primer
b.             Larutan yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan cara menimbang zat kemudian melarutkannya untuk memperoleh volume tertentu, tetapi dapat distandarkan dengan larutan standar primer, disebut larutan standar sekunder.
Sebelum melakukan pembahasan tentang analisis kuantitatif, ada baiknya memahami terlebih dahulu tentang pengertian analisis kuantitatif itu sendiri. Analisis kuantitatif memberikan informasi mengenai berapa banyak komposisi suatu komponen dalam sampel. Pada percobaan kali ini kita melakukan analisis kuantitatif untuk menentukan kadar asam asetat dalam asam cuka komersial, yang beredar dipasaran. Dimana pada percobaan ini digunakan asam cuka botol. Analisis yang dilakukan adalah analisis tirimetri karena kadar komposisi ditetapkan berdasarkan volum pereaksi (konsentrasi diketahui). Penggunaan analisi tirimetri ini menggunakan larutan NaOH 0,1 N sebagai larutan standarnya. Karena NaOH merupakan larutan standar sekunder , maka sebelum digunakan terlebih dahulu larutan NaOH tersebut distandarisasi dengan larutan asam oksalat yang merupakan suatu standar primer.
Pada penentuan Konsentrasi asam asetat terjadi reaksi antara asam lemah (CH3COOH) dengan basa kuat (NaOH). Sebelum dititrasi, asam asetat telah diencerkan terlebih dahulu. Karena asam asetat adalah asam monoproptik, maka n asam asetat sebesar 1 ek/mol. Reaksi yang terjadi pada saat penitrasian adalah :
CH3COOH  +  NaOH                      CH3COONa + H2O
Pada percobaan ini, dilakukan analisis kuantitatif untuk menentukan kadar asam cuka komersial. Analisis yang dilakukan adalah analisis tirtimetri dengan menggunakan larutan NaOH 0,1 N sebagai larutan standarnya. Akan tetapi, sebelum NaOH digunakan, terlebih dahulu larutan NaOH tersebut distandarisasikan dengan menggunakan larutan asam oksalat yang merupakan larutan standar primer. Hal ini perlu dilakukan karena larutan NaOH adalah larutan standar sekunder.
Untuk menentukan konsentrasi dari larutan NaOH, maka dilakukan titrasi antara NaOH dengan asam oksalat sebagai titran. Titrasi ini dilakukan dengan menambahkan 2-3 tetes indikator fenofhtalein ke dalam larutan NaOH, indikator fenofhtalein digunakan pada titrasi ini karena terjadi antara asam kuat dan basa kuat, sehingga akan mudah melihat perubahan warna dari larutan yang dititrasi.
Titrasi NaOH ini baru dihentikan setelah terjadi perubahan warna konstan pada larutan NaOH, yang sebelumnya berwarna ungu dan setelah dititrasi dengan menggunakan indikator fenofhtalein menjadi bening. Perubahan warna tersebut menunjukkan telah tercapainya titik ekuivalen.
Titrasi pertama dilakukan sebanyak 2 kali, kemudian dihitung volume rata-ratanya. Pada titrasi pertama volume asam oksalat yang diperlukan adalah sebanyak 8,1 mL, pada titrasi kedua sebanyak 5,5 mL. Maka dari hasil kedua titrasi tersebut didapatkan volume rata-rata asam oksalat yang diperlukan yaitu sebesar 6,8 mL sehingga dari volume rata-rata tersebut dapat menentukan konsentrasi NaOH.
Tercapainya titik ekuivalen pada proses titrasi menyatakan terjadinya kesetimbangan antara mol asam dan mol basa, sehingga diperoleh persamaan berikut:
(N . M)asam = (N . M)basa
Dari persamaan diatas, maka dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi NaOH, maka dari hasil perhitungan diperoleh konsentrasi NaOh sebesar 0, 272 ek/L. Kemudian dari nilai tersebut dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi asam asetat. Tetapi penentuan konsentrasi asam asetat ini juga harus dilakuakan melalui titrasi.
Titrasi asam asetat ini juga sama seperti pada titrasi NaOH dengan asama oksalat sebagai titran, yaitu dengan menggunakan indikator fenofhtalein. Tetapi, yang membedakan titrasi ini dengan titrasi sebelumnya adalah jika titrasi ini terjadi antar cuka sebagai asam lemah dan NaOH sebagai bassa kuat. Asam cuka digunakan pada percobaan ini karena asam cuka termaasuk ke dalam asam asetat, sehingga untuk mengetahui konsentrasinya dari asam asetat dapat digunakan asam cuka yang tentunya terlebih dahulu ditambahkan dengan aakuades.
Pada titrasi asam cuka dengan NaOH sebagai titran ini berbeda dengan titrasi sebelumnya. Perbedaannya adalah pada warna larutan NaOH pada titarsi pertama dengan titrasi asam cuka pada titrasi kedua. Pada titrasi pertama, larutan NaOH yang ada dalam erlenmeyer setelah ditambahkan dengan indikator fenofhtalein, warna larutan yang mulanya ungu berubah menjadi bening. Berbeda dengan titrasi kedua, pada titrasi ini larutan asam cuka yang ada dalam erlenmeyer setelah ditetesi 2-3 tetes indikator fenofhtalein warna larutan yang mualnya bening menjadi ungu. Hal tersebut terjadi karena pada titrasi pertama adalah NaOH sebagai basa kuat dan pada titrasi yang kedua yang dititrasi adalah asam cuka sebagai basa lemah.
Titrasi kedua ini juga dilakukan sebanyak 2 kali, kemudian dihitung volume rata-ratanya. Pada titrasi NaOH yang pertama dan kedua diperlukan sebanyak 15 mL, maka diperoleh volume rata-rata sebesar 21 mL. Kemudian volume rata-rata tersebut dapat menentukan nilai dari konsentrasi asam asetat, dan dari hasil perhitungan diperoleh konsentrasi asam asetat sebesar 0,2 mol/L
 Konsentrasi asam asetat yang diperoleh tersebut merupakan konsentrasi sam asetat yang telah diencerkan, untuk mengetahui besarnya konsentrasi asam aseata sebelum diencerkan dapat dihitung dengan rumus pengenceran sehingga diperoleh konsentrasi dari asam asetat sebelum diencerkan sebesar 9,52 mol/L. Dari konsentrasi asam asetat yang diperoleh sebelumnya diencerkan tersebut dapat kita ketahui hasil konsentrasi asam asetat dalam jumlah presentasnya sebesar 57, 12 %.
VI.        KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari  praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.         Pada standarisasi didapat bahwa konsentrasi asam asetat sebelum diencerkan adalah 9,52 mol/L.
2.         Dalam hasil perhitungan di dapat nilai kadar asam asetat (%CH3COOH) dalam air yaitu sebesar 57,12 %
3.          Pada standarisasi, analisis yang digunakan yaitu analisis titrimetri karena akurasi yang dihasilkan sanggat tinggi.
4.         Pada analisis titrimetri diperlukan bahan yang memiliki berat molekul yang tinggi, relatif satbil, tidak bersifat hidroskopis, bereaksi sangat cepat daan reaksi berlangsung secara lengkap dan stoikiometris.
DAFTAR PUSTAKA
Basset, J. et al. 1994. Buku Ajar Vogel : Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Kedokteran EGC, Jakarta.

Brady, J. E. 1990. Kimia Universitas: Asas dan Struktur Jilid 1. Erlangga, Jakarta.

Day, R. A. dan S. Keman. 1998. Kimia Analisa Kuantitatif. Erlangga, Jakarta.
Sari, F.I. dan Soedjajadi K. 2005. Efektifitas Larutan Asam Cuka. Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.1, No.2, Januari 2005.

Keenan, Charles W. dkk. 1991. Ilmu Kimia Untuk Universitas. Jakarta, Erlangga.

Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia, Jakarta.

Sukmariah. 1990. Kimia Kedokteran Edisi 2. Binarupa Aksara, Jakarta.

Syukri. 1999. Kimia Dasar 2. Bandung, ITB.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar