Kamis, 02 Februari 2012

KIMIA PERCOBAAN IV

PERCOBAAN IV
KESETIMBANGAN HASIL KALI KELARUTAN
I.              TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan adalah praktikan dapat memahami sifat larutan jenuh, kelarutan suatu garam dalam pelarut air dan menentukan hasil kali kelarutannya.
II.           TINJAUAN PUSTAKA
2.1     Sifat-Sifat Umum Kesetimbangan Larutan
Kesetimbangan kimia adalah kesetimbangan dinamis, karena dalam sistem terjadi perubahan zat pereaksi menjadi hasil reaksi dan sebaliknya. Sebagai contoh:
AB + CD                    AC + BD
Dalam keseimbangan ini terjadi reaksi AB dan CD menjadi AC dan BD dan pada saat yang sama AC dan BD bereaksi menjadi AB dan CD. Akibatnya keempat zat dalam sistem itu jumlahnya mendekati konstan. Dalam reaksi kimia terdapat hubungan antara konstanta kesetimbangan dengan persamaan reaksi yang disebut hukum kesetimbangan. Konstanta kesetimbangan konsentrasi adalah hasil perkalian antara zat hasil reaksi dibagi dengan perkalian konsentrasi zat pereaksidan masing-masing dipangkatkan dengan koefisien reaksinya (Syukri, 1999).
Sistem kesetimbangan dibagi menjadi dua kelompok yaitu sistem kesetimbangan homogen dan sistem kesetimbangan heterogen. Kesetimbangan homogen merupakan kesetimbangan yang anggota sistemnya mempunyai kesamaaan fase, sehingga sistem yang terbentuk itu hanya memiliki satu fase. Kesetimbangan heterogen merupakan suatu kesetimbangan yang anggota sistemnya mempunyai lebih dari satu fase, sehingga sistem yang terbentuk pun mempunyai lebih dari satu macam fase (Keenan, 1991).
Dalam rekristalisasi, sebuah laporan mulai mengendapkan sebuah senyawa bila larutan tersebut mencapai titik jenuh terhadap senyawa tersebut. Dalam pelarutan, pelarut menyerang zat padat dan mensolvasinya pada tingkat partikel invidual. Dalam pengendapan, terjadi kebalikannya: tarik-menarik zat terlarut terjadi kembali saat zat terlarutmeninggalkan larutan. Tarik-menarik zat terlarut-pelarut tetap berlangsung selama proses pengendapan dan pelarut bergabung sendiri ke dalam zat padat (Oxtoby, 2001).
Larutan jenuh didefinisikan sebagai larutan yang mengandung zat terlarut dalam jumlah yang diperlukan untuk adanya kesetimbangan antara zat larut dan zat tak larut. Pembentukan larutan jenuh dapat dipercepat dengan pengadukan yang kuat dari zat terlarut yang berlebih. Banyaknya zat terlarut yang melarut dalam pelarut yang banyaknya tertentu, untuk menghasilkan suatu larutan jenuh disebut kelarutan zat terlarut. Lazimnya kelarutan dinyatakan dalam gram zat terlarut per 100 cm3 atau 100 gram pelarut pada temperatur yang sudah ditentukan (Keenan, 1991).
Suatu larutan tak jenuh kalah pekat (lebih encer) dari pada larutan jenuh. Dan suatu larutan lewat jenuh lebih pekat dibandingkan dengan larutan jenuh. Suatu larutan lewat jenuh biasanya dibuat dengan membuat larutan jenuh pada tempuratur yang lebih tinggi. Zat terlarut haruslah lebih banyak larut dalam pelarut panas daripada dalam pelarut dingin. Jika tersisa zat terlarut yang belum larut, sisa itu disingkirkan. Larutan panas itu kemudian didinginkan dengan hati-hati untuk menghindari pengkristalan. Artinya larutan itu tidak boleh digetarkan atau diguncangkan dan debu maupun materi asing dilarang masuk. Jika tidak ada zat terlarut yang memisahkan diri selama pendinginan, maka larutan yang dingin itu bersifat lewat jenuh (Keenan, 1991).
Sejauh ini, larutan jenuh yang mengandung ion-ion berasal dari satu sumber padatan murni. Namun, bagaimana pengaruhnya pada kesetimbangan larutan jenuh jika ion-ion dari sumber lain dimasukkan ke dalam larutan pertama. Menurut prinsip Le Chatelier, sistem pada keadaan setimbang menanggapi peningkatan salah satu pereaksinya dengan cara menggeser kesetimbangan ke arah dimana pereaksi tersebut dikonsumsi (Petrucci, 1987). Reaksi pelarut pengendapan seringkali mencapai kesetimbangan secara perlahan. Terlebih lagi, larutan kadang-kadang menjadi sangat jenuh, sebuah kondisi dimana konsentrasi zat padat terlarut melebihi nilai kesetimbangannya (Oxtoby, 2001).
2.2     Kelarutan pada Zat Ionik
Kelarutan suatu senyawa dalam suatu pelarut didefinisikan sebagai jumlah terbanyak yang akan larut dalam kesetimbangan dalam volume pelarut tertentu dan pada suhu tertentu. Meskipun pelarut-pelarut selain air digunakan dalam banyak aplikasi, larutan dalam air adalah yang paling penting dan banyak digunakan. Walaupun semua senyawa ionik larut sampai tingkat tertentu dalam air, senyawa-senyawa yang mempunyai kelarutan (pada 25°C) kurang dari 0,1 gL-1 disebut tidak dapat larut. Senyawa yang mempunyai kelarutan lebih dari 10 gL-1 disebut dapat larut dan nilainya diantaranya (0,1-10 gL-1) disebut sedikit dapat larut. Dengan mengetahui kelarutan zat ionik, meskipun dalam bentuk kualitatif, kita dapat memperkirakan jalannya berbagai reaksi. Sebagai contoh, jika larutan KI ditambah ke Pb (NO3)2 ion-ion K+ dan NO3- akan berdekatan, demikian juga dengan ion-ion Pb2+ dan I+. KNO3 adalah garam larut tetapi PbI tidak larut, sehingga pengendapan PbI2 akan muncul (Oxtoby, 2001).
2.3     Hasil Kali Kelarutan
Telah diinyatakan bahwa senyawa ion bukanlah molekul tunggal (seperti senyawa kovalen), tetapi berupa molekul raksasa berwujud padat dan dapat larut dalam air. Bagian yang larut dapat dipecah oleh air menjadi ion yang disebut terdehidrasi, sedangkan bagian yang tidak larut akan mengendap di dasar bejana sebagai padatan. Senyawa ion ada yang mudah laru dalam air dan ada yang sukar. Sebenarnya cukup sulit membedakan kedua kelompok ini, tetapi yang kelarutannya lebih kecil  dari 0,1 gram dalam 1000 mL air termasuk yang sukar larut dan di dalam air akan jatuh ke dasar bejana sebagai padatan. Jika sebutir senyawa yang sukar larut dimasukkan ke dalam air maka akan jatuh ke dasar bejana dan terlihat tidak larut. Akan tetapi sesungguhnya ada sebagian kecil yang larut dan membentuk kesetimbangan ion dengan yang tidak larut.
AgCl (s)                            Ag +(aq) + Cl- (aq)
Sehingga
                                       Kc =
Karena AgCl adalah padat dan dapat dianggap konstan, maka
                             Kc (AgCl) = Ksp=    (Syukri, 1999).
Ksp disebut konstanta hasil kelarutan (solubility product constan), yaitu hasil kali konsentrasi tiap ion yang dipangkatkan dengan koefisien masing-masing. Ksp senyawa dapat ditentukan dari percobaan laboratorium dengan mengukur kelarutan (massa senyawa yang dapat larut dalam tiap liter larutan) sampai keadaan tepat jenuh. Dalam keadaan itu, kemampuan pelarut telah maksimum untuk melarutkan atau mengionkan zat terlarut. Kelebihan zat terlarut walaupun sedikit akan menjadi endapan. Larutan tepat jenuh dapat dibuat dengan memasukkan zat ke dalam pelarut sehingga lewat jenuh. Endapan disaring dan ditimbang untuk menghitung massa yang terlarut (Syukri, 1999).
Nilai Ksp berguna untuk menentukan keadaan senyawa ion dalam larutan, apakah belum jenuh, atau lewat jenuh, yaitu dengan membandingkan hasil kali ion dengan hasil kali kelarutan, kriterianya adalah sebagai berikut:
1.             Apabila hasil kali ion-ion yang dipangkatkan dengan koefisiennya masing-masing kurang dari nilai Ksp maka larutan belum januh daan tidak terjadi endapan.
2.             Apabila hasil kali ion-ion yang dipangkatkan koefisiennya masing-masing sama dengan nilai Ksp maka kelarutannya tepat, tidak terjadi endapan.
3.             Apabila hasil kali ion-ion yang dipangkatkan koefisiennya lebih dari nilai Ksp, maka larutan disebut lewat jenuh dan terbentuk endapan (Syukri, 1999).
Kehadiran ion tak senama cenderung meningkatkan kelarutan. Jika konsentrasi ion total dalam larutan meningkat, gaya tarik antar ion menjadi lebih nyata. Akifitas (konsentrasi efektif) menjadi lebih kecil dibanding konsentrasi stoikiometrinya (Petrucci, 1987). Untuk garam yang sedikit larut (kelarutannya kurang dari 0,001 mol/dm3), adalah fakta eksperimen bahwa perkalian konsentrasi-konsentrasi  molekuler total ion-ion adalah konstan pada temperatur konstan. Hasil kali ini disebut hasil kali kelarutan (Vogel, 1999).
2.4     Hubungan Kelarutan dan Ksp
Kelarutan molal dan tetapan hasil kali kelarutan saling berhubungan, tetapi tidak beraarti identik. Salah satu besaran dapat digunakan sebagai dasar perhitungan besaran lainnya, nilai numeriknya tak pernah sama. Kita telah menggunakan istilah “zat yang sedikit larut” dalam perubahan hasil kali kelarutan. Rumus yang sama dapat diterapkan untuk larutan jenuh dari senyawa ion yang sangat kuat dalam air seperti NaCl, KNO3 dan NaOH. Yang tidak daapat dilakukan ialah menggantikan konsentrasi ion dengan aktivitas ion. Larutan jenuh dari zat yang kelarutannya tinggi terlalu pekat, sehingga aktiviitasnya tak dapat dianggaap sama dengan konsentrasi molarnya. Tanpa anggapan ini, konsep hasil kali kelarutan menjadi tidak jelas maknanya. Sekalipun tidak dinyatakan “sedikit larut” dalam kesetimbangan larutan, apabila dinyatakan nilai Ksp maka yang dimaksud adalah senyawa ion yang sedikit larut (Petrucci, 1992).
Hubungan antara kelarutan dengan Ksp yaitu Ksp dapat menentukan kelarutan dan kelarutan dapat pula dihitung dari tabel Ksp. Pengaruh ion senama, sejak ini larutan jenuh yang mengandung ion-ion yang berasal dari satu sumber padatan murni. Kelarutan senyawa ion yang sedikit larut semakin renndah kelarutannya dengan kehadiran yang memberikan ion senama. Pengaruh ion senama dalam kesetimbangan kelarutan adalah misalnya larutan yang jernih dengan penambahan sedikit larutan yang mengandung ion senama akan menurunkan kelarutan zat dan kelebihan terlarut mengendap. Pengaruh ion senama lebih dikenal dengan istilah pengaruh garam. Kelarutan meningkat apabila terjadi pembentukan pasangan ion dalam larutan. Faktor yang lebih nyata dari pasangan ion adalah jika ion yang berperan serta dalam kesetimbangan kelarutan secara bersamaan terlibat dalam kesetimbangan asam basa atau ion kompleks. Maka nilai Ksp tergantung pada suhu (Underwood, 1998).
2.5     Pengendapan dan Hasil Kali Kelarutan
Jika AgCl dilarutkan, jumlah mol ion Ag+(aq) dan ion Cl-(aq) yang dihasilkan sama, dan jika Ag2SO4 dilarutkan, jumlah mol ion Ag+(aq) sebanyak dua kali dari jumlah ion SO42-(aq) dihasilkan.  Hubungan hasil kali kelarutan seperti:
                                        
Lebih umum dari pada ini dan berlangsung terus dalam tekanan, meskipun jumlah kimia relatif dari kedua ion dalam larutan berbeda dengan yang ada senyawa zat padat murninya. Keadaan seperti ini sering dihasilkan jika dua larutan dicampur untuk menghasilkan endapan atau jika garam lain ada yang mengandung ion yang sama dengan garam yang sedang diteliti (Oxtoby, 2001).
Deposit kerak yang terbentuk pada unit penukar panas terdiri atas komponen-komponen kerak meliputi CaCO3, CaSO4, MgCO3, MgCO4, CaSiO3  dan sebagainya. Pada umumnya deposit kerak CaCO3 lebih dominan dibandingkan dengan penelitian efek inhibitor terhadap inhibisi kerak CaCO3 dalam larutan jenuh 4300 ppm CaCO3 berdasarkan metode standar NACE 03-74 (Sundjono, 2009).
III.        ALAT DAN BAHAN
A.       Alat-alat
Alat-alat yang diigunakan dalam percobaan ini meliputi: gelas piala 100 mL, erlenmeyer 100 mL, pipet volume (ukuran 2, 20 dan 25 mL), buret 50 mL dan corong kaca.
B.       Bahan-bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini meliputi: larutan jenuh MgCO3, CaCO3, larutan standar HCl 0,01 M, larutan standar NaOH 0,01 M dan  indikator fenol merah.
IV.        PROSEDUR KERJA
1.      25 mL larutan jenuh  MgCO3 dimasukkan ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan pipet gondok.
2.      5 mL larutan HCl 0,01 M ditambahkan dengan menggunakan pipet gondok.
3.      10 mL larutan NaOH 0,01 M ditambahkan dengan menggunakan pipet gondok.
4.      Buret yang akan digunakan dicuci dengan akuades dan setelah itu dikeringkan.
5.      Buret diisi dengan larutan standar HCl 0,01 M.
6.      Indikator fenol merah ditambahkan ke dalam erlenmeyer.
7.      Larutan di dalam erlenmeyer dititrasi dengan larutan HCl 0,01 M dari buret sampai tepat terjadi perubahan warna yang konstan.
8.      Titrasi dihentikan. Volume HCl yang diperlukan uuntuk titrasi dicatat.
9.      Titrrasi diulangi sebanyak 2 kali. Volume HCl yang digunakan dirata-ratakan.
10.  Prosedur yang sama dilakukan untuk CaCO3 dan BaCO3.
V.           HASIL DAN PEMBAHASAN
A.       Hasil dan Perhitungan
1.    Hasil
Percobaan pada MgCO3
NO
Langkah Percobaan
Hasil Pengamatan
1.


2.

3.

4.
5.

6.

7.







8.
Dimasukkan larutan jenuh MgCO3 ke dalam erlenmeyer menggunakan pipet gondok.
Ditambah larutan HCl 0,001 M dengan pipet gondok.
Ditambahkan larutan NaOH 0,001 M dengan pipet gondok.
Buret dicuci dan dikeringkan.
Buret diisi dengan larutan standar HCl 0,001 M.
Ditambahkan indikator fenol merah ke dalam erlenmeyer.
Dititrasi larutan dalam erlenmeyer dengan HCl 0,001 M dalam buret sampai tepat terjadi perubahan warna dan hentikan titrasi. Ulangi sebanyak 2 kali.



Dirata-ratakan volume HCl.
V MgCO3 = 25 mL


V HCl = 5 mL

V NaOH = 10 mL






Titrasi ke 1
V HCl = 17 mL
Berubah warna yaitu dari ungu ⇾ bening.
Titrasi ke 2
V HCl 25 mL
Berubah warna yaitu dari ungu ⇾ bening.
Vrata-rata = 21 mL.

NO
Langkah Percobaan
Hasil Pengamatan
1.


2.

3.

4.
5.

6.

7.




8.
Dimasukkan larutan jenuh CaCO3 ke dalam erlenmeyer menggunakan pipet gondok.
Ditambah larutan HCl 0,001 M dengan pipet gondok.
Ditambahkan larutan NaOH 0,001 M dengan pipet gondok.
Buret dicuci dan dikeringkan.
Buret diisi dengan larutan standar HCl 0,001 M.
Ditambahkan indikator fenol merah ke dalam erlenmeyer.
Dititrasi larutan dalam erlenmeyer dengan HCl 0,001 M dalam buret sampai tepat terjadi perubahan warna dan hentikan titrasi.
Dirata-ratakan volume HCl.
V CaCO3 = 25 mL


V HCl = 5 mL

V NaOH = 10 mL






Titrasi ke 1
V HCl = 35,2 mL
Berubah warna yaitu dari ungu ⇾ bening.

Vrata-rata = 35,2 mL.
2.    Perhitungan
a.         Pada larutan MgCO3
Konsentrasi  HCl yang digunakan untuk mentitrasi = 0,01 M
Volume HCl yang digunakan untuk titrasi = 21 mL
Jumlah mmol HCl yang ditambahkan pada langkah (2) = 0,01 M x 5 mL
                                                                                 = 0,05 mmol
Jumlah mmol NaOH yang ditambahkan pada langkah (3)= 0,01 M x10 mL
     = 0,1 mmol
Jumlah mmol HCl yang digunakan saat titrasi = N. Vtitrasi
                                                                            = 0,01 M . 21 mL
                                                                            = 0,21 mmol
Ditanyakan:
a)      Jumlah mmol MgCO3....?
b)      Kelarutan MgCO3....?
c)      Ksp MgCO3.....?
Jawab:
Reaksi 1
                           MgCO3     +     2HCl      MgCl2  +  H2CO3
mmol awal :       x mmol            0,05 mmol
bereaksi      :       x mmol            2x mmol
sisa             :            -                  (0,05-2x) mmol
Reaksi 2
                               HCl            +      NaOH       NaCl  +   H2O
mmol awal : (0,05-2x) mmol         0,1 mmol
bereaksi      : (0,05-2x) mmol     (0,05-2x) mmol
sisa              :             -                    (0,05 + 2x) mmol
Reaksi 3
                             NaOH           +          HCl         NaCl  +   H2O
mmol awal : (0,05 + 2x) mmol   (0,05 + 2x) mmol
bereaksi      : (0,05 +2x) mmol    (0,05 + 2x) mmol
sisa              :            -                                  -
(pada titik ekuivalen titrasi, jumlah mol asam sama dengan jumlah mol basa)
(jumlah mmol NaOH)  = (jumlah mmol HCl)
(0,05 + 2x) mmol       =  0,01 mmol/mL x Vtitrasi (mL)
2x     = 0,21 mmol – 0,05 mmol
 x      =
x       = 0,08 mmol
Kelarutan MgCO3     =  =  mmol/mL = 3,2 x 10-3 mol/L
MgCO3 akan terurai menjadi dua ion dalam pelarut air sehingga Ksp-nya:
MgCO3                       Mg2+  + CO32-
                           Ksp MgCO3 =
                                           = (3,2 x 10-3)2 = 10,24 x 10-6  mol/L
Jadi, Ksp MgCO3 adalah 10,24 x 10-8  mol/L.
b.             Pada larutan CaCO3
Diketahui:
Konsentrasi HCl                                                = 0,01 M
Vtitrasi HCl                                                                              = 35,2 mL
Jumlah mmol HCl yang ditambahkan               = 0,01 M x 5 mL
= 0,05 mmol
Jumlah mmol NaOH                                          = 0,01 M x 10 mL
                                                                           = 0,1 mmol
Jumlah mmol HCl yang ditambahkan               = N . Vtitrasi
= 0,01 mmol/mL x 35,2 mL
= 0,352 mmol
Ditanya:
a.    Jumlah mmol CaCO3......?
b.    Kelarutan CaCO3......?
c.    Ksp CaCO3....?
Jawab:
Reaksi I
               CaCO3    +    2HCl    CaCl   + H2CO3
mmol awal:        x mmol      0,05 mmol
bereaksi    :         x mmol      2x
sisa              :           -             (0,05 – 2x) mmol

Reaksi 2
                 HCl       +     NaOH      NaCl   +    H2O
mmol awal: (0,05 – 2x)   0,1
bereaksi    : (0,05 – 2x)     (0,05 – 2x)
sisa              :         -                (0,05 +2x)
(jumlah mmol NaOH) = (jumlah mmol HCl)
(0,05 + 2x)                     = 0,01 mmol/mL x Vtitrasi (mL)
                     2x  =
                  x   =  
                  x   = 0,151 mmol
Kelarutan CaCO3     =  
                      =  
     =  6,04 x 10-3 mol/L
Ksp CaCO3                 =
=    S                S
= S2
= (6,04 x 10-3)2
= 36,48 x 10-6 M
B.            Pembahasan
1.         Pembahasan Untuk MgCO3
Jika kita melarutkan suatu zat (senyawa garam) ke dalam air sedikit demi sedikit, sehingga yang pada mulanya zat tersebut larut dalam air, sampai lama-kelamaan padatan garam yang ditambahkan itu tidak bisa larut lagi. Keadaan ini disebut keadaan jenuh, dimana pada saat zat pelarut sudah tidak mampu lagi melarutkan suatu zat yang ditambahkan (zat terlarut).
Pada keadaan jenuh yang terjadi adalah kesetimbangan heterogen antara padatan dengan ion-ion yang terlarut dan konstanta kesetimbangan ini disebut hasil kali kelarutan yang dinotasikan dengan Ksp, dimana dalam perhitungannya yang diperhitungkan hanya konstanta kesetimbangan ion-ionnya saja, sedangkan padatannya tidak diperhitungkan karena merupakan kesetimbangan heterogen.
Pada percobaan ini bahan yang digunakan yaitu Magnesium Karbonat. Larutan jenuh MgCO3 adalah larutan yang akan mengendap jika MgCO3 terus-menerus dilarutkan. Volume larutan jenuh yang dipakai pada percobaan ini yaitu 25 mL. Kemudian ditambah HCl berlebih dengan volume sebesar 5 mL. Lalu untuk menetralkan kelebihan HCl yang tidak bereaksi dengan garam maka direaksikan dengan NaOH berlebih yang bervolume 10 mL.
Ketika larutan jenuh ditambahkan dengan NaOH maka larutan akan mengalami kelebihan NaOH untuk itu dilakukan titrasi dengan HCl setelah sebelumnya larutan jenuh tersebut diteteskan pada indikator fenol merah. Titrasi ini dilakukan sebanyak 2 kali. Pada titrasi yang pertama ini menggunakan volume HCl sebesar 17 mL dan terjadi perubahan warna yang semula berwarna ungu menjadi bening. Pada titrasi kedua perubahan warnanya sama seperti titrasi pertama namun yang membedakannya hanyalah volume HCl yang digunakan. Dimana pada titrasi yang kedua volume HCl sebesar 25 mL. Jadi, rata-rata volume HCl yang digunakan untuk mentitrasi campuran larutan MgCO3 yaitu sebesar 21 mL. Setelah itu dapat dicari mol MgCO3 dengan cara perhitungan, didapatkan molnya yaitu  0,008 mmol. Kelarutan MgCO3 yang dihasilkan sebesar 3,2 x 10-3 mol/L. Berdasarkan kelarutan ini dapat diketahui besar Ksp yaitu 10,24 x 10-6  mol/L.
2.         Pembahasan untuk CaCO3 
Percobaan yang dilakukan pada CaCO3 tidak jauh berbeda dengan perlakuan pada perlakuan MgCO3 ke dalam erlenmeyer kemudian ditambahkan dengan HCl dan NaOH tidak terjadi perubahan warna. Larutan masih menunjukkan warna bening. Namun, setelah ditambahkan dengan indikator fenol merah larutan berubah menjadi warna ungu. Larutan ini kemudian dititrasi dengan menggunakan HCl sekali saja. Pada titrasi ini digunakan volume HCl sebesar 35,2 mL dan mengalami perubahan warna yaitu dari ungu menjadi bening. Volume rata-rata HCl dari percobaan ini yaitu 35,2 mL, dari hasil perhitungan diatas dapat dicari nilai mol CaCO3 yaitu sebesar 0,151 mmol. Kelarutan yang diperoleh yaitu 6,04 x 10-3 mol/L, dari kelarutan CaCO3 dapat diketahui nilai Ksp-nya yaitu sebesar 36,48 x 10-6 M.
VI.    KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah:
1.      Larutan jenuh merupakan larutan yang mengandung zat terlarut dalam jumlah yang diperlukan untuk adanya kesetimbangan antara zat terlarut yang larut dan tak larut.
2.      Kelarutan suatu senyawa dalam suatu pelarut adalah jumlah terbanyak yang akan larut dalam kesetimbangan dalam volume pelarut tertentu pada suhu tertentu.
3.      Kelarutan MgCO3  yang diperoleh yaitu 3,2 x 10-3 mol/L dan harga Ksp yang di dapatkan yaitu 10,24 x 10-6  mol/L.
4.      Kelaruttan CaCO3 yang diperoleh yaitu 6,04 x 10-3 mol/L, sedangkan pada harga Ksp yang didapatkan yaitu 36,48 x 10-6 M.
DAFTAR PUSTAKA
Keenan, C.W. dkk. 1991. Ilmu Kimia Untuk Universitas. Jakarta, Erlangga.

Oxtoby. 2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern Jilid I. Jakarta, Erlangga.

Petrucci. 1987. Kimia Dasar Jilid 2. Jakarta, Erlangga.

Petrucci, R. H. 1992. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Edisi Keempat  Jilid 2. Erlangga, Jakarta.

Sundjono. 2009. Kecenderungan Pembentukan Kerak CaCO3 dan pengendalian Dalam Untit Penukar Panas.Volume 18 /No.2/ Oktober 2009, Tangerang.

Syukri. 1999. Kimia Dasar 2. Bandung, ITB.

Underwood. 1998. Kimia Untuk Universitas. Jakarta, Erlangga.

Vogel. 1999. Analisa Kuantitatif akedokteran. Jakarta EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar